Spiga

undangan biasa aja kok



Gresik, 12 Juni 2009

Bismillahirrohmaanirrohim
Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
Dengan rahmat dan ridho Allah SWT., kami
mengharap kehadiran Bapak/Ibu/ Saudara / I guna ikut serta memberikan do’a
pada acara “Walimahan” kami :

NOVITA RATNA ANDADARI, S.IP
( Gresik )
&
HERI SETIAWAN, S.Sos
(Tuban)

Yang Insya Allah dilaksanakan pada :
Hari , Tanggal : Jum’at , 12 Juni 2009
Pukul : 09.00 – 11.30 WIB
Tempat : Rumah Kami Jl. KH Syafi’i RT 03/07 Pongangan-Krajan,Manyar- Gresik

Demikian atas kehadiran Bapak/Ibu/Saudara/i, kami sekeluarga mengucapkan
terima kasih. Semoga kita sekalian mendapat limpahan pahala dari Allah SWT.
Wassalamu’alaikum warohmatullahi Wabarokatuh

Ratna dan Heri

NB : AKAD NIKAH : hari Jum;at, 12 Juni 2009 jam 07.45 di rumah keluarga


undangan bisa di ambil di fesbuk : Kang Heri Setiawan

Selengkapnya...

Siap mEnang (tidak) siap kalah

Siap mEnang (tidak) siap kalah

Pileg 2009 ini sungguh mendebarkan dan mencemaskan. Dimulai dari carut-marutnya DPT, distribusi surat suara hingga caleg-caleg yang rela ‘mencabut’ nyawanya. Pemilu 2009 ini merupakan pemilu yang ketiga kalinya pasca reformasi namun sebagian besar pengamat mengatakan kalau pemilu kali ini yang terburuk. Ironis memang, dengan anggaran yang tiga kali lipat dari anggaran pemilu 2004 namun hasilnya sungguh-sungguh mengecewakan rakyat.

Kisruh DPT sungguh ironis, satu bulan menjelang contrengan baru dapat diendus. Terlepas dari unsur politis didalamnya yang jelas ini menunjukkan ketidaksiapan KPU untuk melaksanakan pemilu. Kisruh DPT dimulai dari banyaknya pengglembungan jumlah warga yang masuk dalam DPT dengan modus penggandaan NIK, Nama dan tempat pencoblosan yang berbeda. Selain itu, kasus anak dibawah umur serta orang yang meninggal ( seperti Alm. Amrozi Cs) juga masuk dalam DPT. Disisi lain, hampir 45 juta orang (data dari Advokasi PDIP) justru tidak masuk dalam DPT.
Pada waktu kampanye juga tidak sedikit partai yang melakukan pelanggaran. Mulai pelanggaran administrative hingga tindak pidana. Sebagian besar yang melakukan pelanggaran adalah partai-partai besar. Pada waktu jelang pencontrengan juga tidak sedikit yang melakukan sogokan berupa bagi-bagi uang dan sembako. Dan saya pikir ini sudah bukan rahasia lagi
Pasca pencoblosan / pencontrengan semua orang menjadi bingung dan stress. Keberadaan Parliamentary Treshold (PT) memupus impian sebagian besar orang yang bercita-cita duduk di DPR. Hasil prediksi berbagai lembaga survey menyebutkan tidak lebih dari 9 partai yang lolos PT tersebut. 9 partai itu adalah PD, Golkar, PDIP, PKS, PAN, PKB, PPP, Hanura, dan Gerindra. Padahal yang maju melalui partai-partai lain juga orang-orang top dinegeri ini, tapi apa daya aturan menyatakan seperti itu.
Hasil dari pencontrengan semua diluar dugaan. Mereka-mereka yang sudah terkenal di negeri ini tidak jaminan akan melenggang kembali ke Senayan. Ketokohan dan ‘jiwa sosial’ mereka tidak jadi jaminan tiket ke ‘kursi terhormat’. Justru mereka yang ‘terpanggil’ ke Senayan adalah para artis yang selama ini sering menghibur rakyat. Wah kayaknya rakyat butuh hiburan…
Disisi lain banyak caleg yang rela ‘mengorbankan’ dirinya akibat depresi, stress, dan beragam tekanan lain yang berujung pada kematian. Saat ini di media massa kita bisa melihat perilaku mereka itu. Mulai dari yang linglung, menabrakkan diri ke pohon, hingga gantung diri. Duh kasihan….


Selengkapnya...

Apakah ini adil ?


Apakah ini adil ?



Tinggal menghitung beberapa hari lagi kita akan melakukan pesta demokrasi. Tepatnya 9 April 2009 kita akan mencontreng siapa wakil kita di DPD, DPR, DPRD I dan DPRD II. Sebagai warga negara yang baik tentunya anda akan menggunakan hak pilik anda dengan sebaik-baiknya. Tetapi bagaimana dengan anda yang justru tidak tercantum dalam DPT atau bahkan juga bagaimana cara anda mencoblos kalau nama anda dikloning hingga lebih dari satu ? bingung juga kan ?
Kampanye yang sudah berjalan hampir 6 bulan itu sejak kampanye tertutup hingga kampanye terbuka telah menghasilkan 2000an bentuk pelanggaran. Bentuk pelanggaran pemilu yakni Bentuk pelanggaran administrasi hingga pelanggaran pidana pemilu. Dan bisa dipastikan yang banyak melakukan pelanggaran adalah partai besar dan partai menengah. Berangkat dari situ, layakkah mereka kita pilih untuk mewakili suara kita ?
Ribuan caleg mengadu nasib untuk menjadi legislatif. Modal sosial dan ekonomi sudah tak terhitung lagi dikeluarkan. Bahkan ada yang rela menggadaikan perabotannya untuk biaya kampanyenya. Dan inipun bukan jaminan dia akan melenggang ke Senayan, wajarkah kalau ia terkena gangguan kejiwaan ?


Dalam setiap kampanye sebagian besar parpol melibatkan artis dangdut yang bergoyang erotis. Dan sebagian besar yang bergoyang adalah remaja dan anak-anak. Kalau ini didalam masa kampanye mungkin masih senonoh tetapi kalau merambah kepada goyangan erotis (skandal seksual) legislator yang terpilih ini merupakan perbuatan yang tidak senonoh lagi. Tetapi berapa besar dari kita yang masih peduli dan sadar ?
Keberadaan Parliamentary Treshold (PT) sebesar 2,5 % lebih ngeri lagi. Ditengah semangat sikap suara terbanyak harus dijungkal dengan aturan untuk mengukuhkan keberadaan partai-partai besar itu. Bahkan hasil survey mengindikasikan kurang lebih 10 parpol saja yang mampu menembus Senayan. Selebihnya (20 an partai) harus siap gigit jari walaupun mereka mungkin mendapatkan suara terbanyak pun di beberapa daerah. Patutkah mereka kita kasihani ?




Selengkapnya...

Cerdas memilih


Cerdas memilih


Hingar bingar kampaye sudah mulai terdengar dimana-mana. Ancaman diskualifikasi untuk beberapa parpol yang belum menyerahkankan laporan dana awal hanya gertakan sambal belaka. Itulah kebaikan tradisi kita yang cenderung lupa dan toleransi terhadap kesalahan-kesalahan yang ada. Tidak peduli di tingkatan level pejabat dan birokrat akan tetapi rakyat juga sama-sama plagiatnya.
Kampanye kali ini merupakan rituasi lima tahunan yang telah ada sejak 1955. Namun ada yang berbeda dengan kampanye kali ini dengan slogan ”Kampanye Damai”. Tentu kita berharap hal ini tidak hanya slogan dan pajangan yang membuat orang terkagum-kagum namun jauh dari kenyataan. Kampanye Damai merupakan term yang bermaksud agar kampanye ini jauh dari kekerasan, anarki dan tindakan sok ’raja’ sendiri.


Semua partai mematut diri layaknya gadis yang menunggu pinangan. Berhias, berdandan dan ber make up an untuk menarik perhatian para voters. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan permormance mereka namun sungguh miris jika hal itu hanya tindakan yang manipulatif dan fiktif. Ada partai yang mengesankan sebagai partai pembaharu padahal sejatinya adalah tinggalan orde baru. Ada partai yang hasil recycle dan reinkarnasi dari partai-partai sebelumnya pada pemilu 1999. Ada partai yang sok reformis padahal penghuni partainya adalah orang-orang pragmatis dan oportunis.
Tampilan cenderung mengelabui orang – orang yang melihatnya. Polesan cenderung layaknya topeng yang menyembunyikan belang – belang kecacatan. Dandanan cenderung memanipulasi fakta-fakta yang seharusnya dibeberkan. Dan yang pasti dan jelas kita jangan sampai tertipu olehnya. Ingat kata bijak : “Jangan tertipu pada yang tampak kerana yang nampak itu banyak yang menipu”.



Selengkapnya...

Cerdas memilih

Cerdas memilih


Hingar bingar kampaye sudah mulai terdengar dimana-mana. Ancaman diskualifikasi untuk beberapa parpol yang belum menyerahkankan laporan dana awal hanya gertakan sambal belaka. Itulah kebaikan tradisi kita yang cenderung lupa dan toleransi terhadap kesalahan-kesalahan yang ada. Tidak peduli di tingkatan level pejabat dan birokrat akan tetapi rakyat juga sama-sama plagiatnya.
Kampanye kali ini merupakan rituasi lima tahunan yang telah ada sejak 1955. Namun ada yang berbeda dengan kampanye kali ini dengan slogan ”Kampanye Damai”. Tentu kita berharap hal ini tidak hanya slogan dan pajangan yang membuat orang terkagum-kagum namun jauh dari kenyataan. Kampanye Damai merupakan term yang bermaksud agar kampanye ini jauh dari kekerasan, anarki dan tindakan sok ’raja’ sendiri.


Semua partai mematut diri layaknya gadis yang menunggu pinangan. Berhias, berdandan dan ber make up an untuk menarik perhatian para voters. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan permormance mereka namun sungguh miris jika hal itu hanya tindakan yang manipulatif dan fiktif. Ada partai yang mengesankan sebagai partai pembaharu padahal sejatinya adalah tinggalan orde baru. Ada partai yang hasil recycle dan reinkarnasi dari partai-partai sebelumnya pada pemilu 1999. Ada partai yang sok reformis padahal penghuni partainya adalah orang-orang pragmatis dan oportunis.
Tampilan cenderung mengelabui orang – orang yang melihatnya. Polesan cenderung layaknya topeng yang menyembunyikan belang – belang kecacatan. Dandanan cenderung memanipulasi fakta-fakta yang seharusnya dibeberkan. Dan yang pasti dan jelas kita jangan sampai tertipu olehnya. Ingat kata bijak : “Jangan tertipu pada yang tampak kerana yang nampak itu banyak yang menipu”.



Selengkapnya...